23Jun/14

Puskom Gelar Pelatihan Digital Repository bagi Karyawan Perpustakaan

(Unila) : Unit Pelaksana Teknis Pusat Komputer Universitas Lampung (UPT Puskom Unila) bekerjasama dengan UPT Perpustakaan menggelar pelatihan Digital Repository bagi para staf UPT Perpustakaan. Pelatihan dipandu langsung Gigih Forda Nama S.T., M.T.I., pengembang program tersebut . Kegiatan ini berlangsung di ruang tes Pusat Layanan Tes Universitas Lampung, Kamis (12/6).

Dalam penjelasannya Gigih menyampaikan, Digital Repository penting diadakan guna mendukung publikasi dan aksesibilitas terhadap karya ilmiah yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Oleh karena itu diadakan pelatihan singkat yang sistemnya direncanakan reasmi dipakai pada pelaksanaan wisuda periode I, September mendatang.

Selama ini, sambung dia, mahasiswa Unila yang sudah menyelesaikan skripsi menyerahkan hardcopy sebagai bukti fisik di perpustakaan. Namun melalui sistem Digital Repository, mahasiswa tidak lagi diwajibkan mengumpulkan hardcopy melainkan cukup softcopy karya ilmiahnya secara diupload online. Dan ini sudah biasa dilakukan oleh beberapa universitas di Indonesia dan dunia.

“Dalam pelatihan singkat ini, kita akan mencoba mendigitalisasi seluruh konten karya ilmiah yang ada, setelah diunduh oleh mahasiswa,” ujarnya.

Tujuan penyelenggaraan Digital Repository, kata dia, selain mendokumentasikan dengan jelas seluruh karya ilmiah yang ada juga berkaitan dengan akreditasi suatu universitas. Yang salah satu komponen penilaiannya adalah publikasi dan aksesibilitas terhadap karya ilmiah yang dihasilkan oleh perguruan tinggi melalui perpustakaan sebagai sarana diseminasi informasi dalam mendukung tri darma perguruan tinggi.

“Perpustakaan sebagai bahan penilaian terbesar dalam akreditasi suatu perguruan tinggi. Karena kelengkapan perpustakaan dinilai sebuah jantung atau cerminan dari suatu universitas,” ujar dosen jurusan Teknik Elekrro Unila ini.

Mekanismenya, urai Gigih, nantinya mahasiswa Unila yang sudah menyelesaikan skripsi datang ke perpustakaan untuk membuat surat pernyataan bebas pustaka. Jika selama ini mahasiswa harus membawa bukti fisik, maka yang akan datang diganti dalam bentuk softcopy/CD. Baru kemudian pihak perpustakaan akan menyatakan bebas pustaka dan memberikan login berikut password kepada mahasiswa tersebut.

Tugas reviewer adalah mengkroscek kelengkapan data yang sudah diunduh mahasiswa agar tidak seluruhnya diakses secara terbuka, kemudian di-publish. Dalam kurun waktu dua hari, hasil unduhan mahasiswa yang sudah diverifikasi dapat dilihat. Saat itu mahasiswa harus datang kembali ke perpustakaan untuk melakukan kontrol. Dan bila dinilai sudah lengkap maka reviewer berhak mencetak nomor registrasi wisuda mahasiswa yang bersangkutan.

Jika dalam satu periode wisuda memiliki kuota 1.100 mahasiswa maka dalam satu tahun minimal akan ada 4.400 record karya ilmiah yang diunduh. “Kita ingin membagi informasi sebesar-besarnya kepada khalayak. Nanti seluruh dokumen yang sudah diunduh akan bisa dibaca langsung secara online karena data sudah dalam bentuk digital. Mereka tidak perlu lagi datang ke perpustakaan,” paparnya.[] Inay

Sumber: http://www.unila.ac.id/17666/

23Jun/14

Butuh Pendekatan Sosio Legal Untuk Pahami Hukum Secara Holistik‏

(Unila) : Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM) Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) bekerja sama dengan Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI) dan Epistema Institute menggelar Pelatihan Metodologi Sosio-Legal. Kegiatan berlangsung mulai 13-14 Juni lalu di Fakultas Hukum Unila.

Pegiat PKKPHAM Fathoni menjelaskan, pelatihan sosio legal ini digelar untuk mengembangkan studi ilmu hukum yang ada. Pihaknya menghadirkan Prof. B. Arief Sidharta, Dr. Widodo Dwi Putro, Dr. Myrna Safitri, Dr. HS. Tisnanta, dan Herlambang Perdana yang notabene merupakan narasumber kompeten di ranah kajian sosio legal. Kegiatan diikuti berbagai kalangan. Mulai dari akademisi, praktisi, pengacara, staf ombudsman, hakim, dan mahasiswa.

Menurut Fathoni, sosio legal merupakan pendekatan penelitian ilmu hukum yang menggunakan bantuan ilmu-ilmu sosial. Karena berasal dari interdisiplin ilmu, kajian sosio legal kini menjadi tren di kalangan para penstudi ilmu hukum.

Metodologinya sendiri dilakukan dengan cara mengaplikasikan perspektif keilmuan sosial terhadap studi hukum. Termasuk di antaranya sosiologi hukum, antropologi hukum, sejarah hukum, psikologi dan hukum, studi ilmu politik peradilan, ilmu perbandingan, serta keilmuan lain. Yakni dengan cara mengupas dan menuntaskan terlebih dahulu soal kerangka normatif suatu masalah.

Lewat pelatihan ini diharapakan para penstudi hukum dapat terus mengembangkan pengetahuan dan kapasitasnya untuk dapat menjawab berbagai perkembangan dan problematika hukum di masyarakat. Seperti yang dipaparkan Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Herlambang Perdana.

Ia menjelaskan, pendekatan hukum yang cenderung normatif ternyata tidak cukup untuk memahami dan menjawab persoalan-persoalan hukum yang terus berkembang di masyarakat.

Kebebasan pers misalnya yang sering dikatakan telah berkembang baik di Indonesia. Jika dilacak secara jujur dari sejarah dan perkembangannya, ternyata belum sepenuhnya memberikan jaminan terhadap kebebasan pers di Indonesia. Tak heran jika kasus-kasus kekerasan dan krimialisasi pers masih acap terjadi. “Oleh karenanya kita membutuhkan pendekatan sosio legal untuk bisa memahami hukum secara lebih holistik,” ujarnya.

Ketua Asosisasi Filsafat Hukum Indonesia Prof. B. Arief Sidharta menambahkan, ilmu hukum adalah multidisiplin, sehingga ilmu hukum harus terbuka dan mengakomodasi ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya yang notabene hukum sebagai objeknya. “Ilmu hukum secara langsung terarah untuk menawarkan alternatif penyelesaian yuridik terhadap masalah hukum konkret,” pungkas Arief.[] Inay

Sumber: http://www.unila.ac.id/butuh-pendekatan-sosio-legal-untuk-pahami-hukum-secara-holistik%e2%80%8f/

23Jun/14

Dikti Kucurkan Rp400 Juta Untuk PMW Unila‏

(Unila) : Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) gelontorkan dana Rp400 juta bagi pengembangan kewirausahaan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2014.

Ketua Tim Seleksi PMW Unila Hartono, S.Sos,. M.A. mengatakan, tahun ini Dikti telah menganggarkan Rp400 juta sebagai alokasi dana PMW tahun 2014. Melalui program ini para mahasiswa akan memperoleh dana segar pengembangan wirausaha Rp5-7 juta per orang.

Salah satu pencapaian program PMW yakni melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) yang diadakan tiap tahun agar para mahasiswa berani berwirausaha pada masa kuliah. Peserta diklat PMW tahun ini sebanyak 55 mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai fakultas di Unila dengan berbagai pengembangan usaha. Mulai dari mikrobisnis di bidang kuliner hingga makrobisnis seperti pengembangan potensi sumber daya alam di daerah.

Hartono menegaskan, langkah yang dilakukan Dikti ini ditujukan agar para mahasiswa mampu membentuk soft skill yang terfokus pada pembentukan mental dalam menghadapi tekanan dan berani menangkap peluang bisnis di tengah masyarakat. PMW pada mahasiswa sendiri ditekankan pada aspek umum rencana usaha. Meliputi aspek ekonomi dan pemasaran, produksi, manajemen, organisasi, dan keuangan.

“Ulasan mengacu pada hasil survei pengamatan pangsa pasar atau survei kelayakan usaha. Para peserta harus mampu mengetahui psikologis konsumen, mempunyai keunggulan pada produk dan pemakaian pemasarannya,” ucapnya di Aula lantai 4 Rektorat Unila, Jumat (13/6).

Pria yang juga Tim Konselor PMW Dikti di Lampung ini menambahkan, PMW merupakan program pengembangan wirausaha di kampus. Program ini sudah berlangsung untuk angkatan ke enam. Selama itu pula PMW Unila sudah menetaskan 600 wirausaha muda berhasil dengan rata-rata lulusan 50 orang per tahun dari pelaksanaan PMW setahun sekali.

“Penyerapan sarjana semakin sempit. Perlu pengembangan wirasausaha yang dikembangkan agar punya karir di bisnis,” paparnya.

Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Unila ini juga membedakan Program Kewirausahaan Mahasiswa (PKM) dengan PMW. Menurutnya PKM bisa diikuti oleh mahasiswa yang tidak dibatasi tingkat semesternya, akan tetapi aspek kerja sama pun pendek. Sedangkan PMW hanya bisa diikuti mahasiwa semester akhir dengan syarat mahasiswa telah menempuh 80 SKS untuk program S1, dan 60 SKS untuk diploma.

Untuk menjadi member PMW Unila, sambungnya, harus melewati berbagai seleksi ketat. Pada 2014 ini perekrutan peserta PMW Unila dimulai dari fase sosialisasi formulir yang telah menjaring sebanyak 379 orang. Kemudian dilakukan seleksi awal berkas sehingga pesertanya menjadi 171 orang, baru masuk seleksi wawancara dan tersisa 55 orang. Jumlah ini yang berhak mengikuti diklat PMW.

Ditambahkan Hartono, penanganan wirausaha tidak melulu fokus di pengembangan usaha bisnis tapi memupuk jiwa kemandirian agar ketika lulus mempunyai solusi tidak terpaku jaringan kerja berbasis instansi. Untuk itu pematangan soft skill penting pada banyak hal. PMW akan membimbing, memonitoring, mengarahkan, dan mengembangkan potensi mahasiswa agar menghasilkan.

“Penilaiannya bisa berbentuk poster dan berbagai media dokumentasi lainnya. Hal itu yang dikoreksi dari tim seleksi Dikti dan Unila. Hasil penilaian itu juga akan dipublikasi pada pekan kreativitas umum mahasiswa bertepatan dengan Dies Natalis Unila September mendatang,” pungkasnya.[] Inay

Sumber: http://www.unila.ac.id/dikti-kucurkan-rp400-juta-untuk-pmw-unila%e2%80%8f/

23Jun/14

Pengawas SBMPTN Diminta Antisipasi Berbagai Kecurangan‏

(Unila) : Pelaksanaan Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) ke berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) termasuk di Universitas Lampung (Unila) tak luput dari kemungkinan terjadinya kecurangan. Untuk itu panitia lokal (panlok) 27 Unila meminta 1.537 pengawas SBMPTN agar mengantisipasi segala hal yang dapat menciderai pelaksanaan SBMPTN tersebut.

Demikian ditekankan Ketua Panlok 27 Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., saat memberikan pengarahan pengawas SBMPTN di Gedung Serba Guna Unila, Jumat (13/6) siang. Pengarahan diberikan kepada 821 pengawas internal yang terdiri dari dosen serta karyawan Unila, maupun 716 pengawas eksternal yang terdiri dari kalangan guru dan dosen di sekolah juga perguruan tinggi yang digunakan sebagai lokasi tes.

Pembantu Rektor I Unila ini juga mengingatkan agar para pengawas waspada pada berbagai bentuk pelanggaran baik yang bersifat teknis maupun nonteknis. Terlebih dengan jumlah peserta ujian tulis yang tahun ini mencapai 19.212 siswa SMA sederajat untuk tahun kelulusan 2012-2014. Adapun 1.537 pengawas tersebut akan dibagi secara acak dengan rincian 433 orang untuk siswa saintek, 706 orang untuk soshum, dan 398 orang untuk campuran.

“Tahun lalu ada 96 ribu pendaftar dan Unila menerima 1.500 orang. Dari jumlah itu sebanyak 30 persen siswa tidak masuk karena berbagai kategori. 15 persen di antara calon mahasiswa gagal diterima karena salah mengisi data diri. Sisanya karena berbagai bentuk indikasi sampai fakta terhadap aksi kecurangan,” paparnya.

Dengan semakin kompetitifnya proses penyeleksian tiap siswa untuk mendapat satu kursi di Unila maka kemungkinan munculnya beragam bentuk kecurangan baik manual maupun menggunakan kecanggihan alat teknologi komunikasi. Oleh karena itu para pengawas diminta bekerja secara profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.[] Inay

Sumber: http://www.unila.ac.id/pengawas-sbmptn-diminta-antisipasi-berbagai-kecurangan%e2%80%8f/